Patah Hati 3 Babak
“ Shila! Maksud lo apaan hah?! Kok lo
mutusin gua sepihak gini sih?! Kan kita bisa bicarain dulu semua baik-baik.
Gausah main putus gini dong! Gua ada salah apalagi sama lo La! Kita kan kemaren
baik-baik aja! “ seru Daru dengan nada tinggi yang menggetarkan atmosfer
ruangan tapi tidak dengan hati Shila.
“ Enggak Dar…lo gak salah apa-apa. Emang gua
nya yang pengen putus aja. “ jawab Shila dengan lembut bersamaan dengan tatapan
mata yang teduh.
“ Tapi kenapa La? Lo udah bosen sama gua??
Atau lo emang punya selingkuhan dari awal?? “ Daru mulai merendahkan suaranya.
Dirinya selalu luluh dengan tatapan teduh Shila. Membuat pemuda itu tidak
pernah bisa benar-benar membentak Shila.
“ Enggak…gua emang mau putus. Dan gak ada
keinginan untuk pacaran lagi sama siapapun sebelum jadi muhrim. Maafin gua ya
Dar, pernah ngajak lo ikut-ikutan buat maksiat gini. Gua tahu sebagian besar
ini juga jadi dosa gua. Tapi satu-satunya yang bisa gua lakuin sekarang adalah
mutusin lo. Mutusin aliran dosa yang udah gua mulai. Maafin gua Daru….gua
nyesel, gua salah. Dan walaupun lo marah, kesel, sakit hati, atau bahkan benci
gua…percayalah Daru, apa yang sekarang gua lakuin adalah hal terbaik yang bisa
mencegah kita dari sesuatu yang bisa lebih berdosa lagi. Semoga suatu saat lo
paham Dar, assalamu`alaikum. “ Shila membalikkan badan. Berjalan keluar dari
ruang kelas yang kini menyisakan Daru seorang. Hatinya berdenyut sakit, namun
juga merasa lega karena ia sudah melepaskan salah satu hal berat demi hijrahnya.
“ Ma-maafin aku ya Shila…gara-gara aku, kamu
sama Daru jadi berantem…” ujar Izza lirih.
Shila menggelengkan kepalanya, lalu
tersenyum tulus menatap Izza yang terlihat sungkan. Diatas bangku taman yang
nyaman, dibawah pohon Waru yang rindang, bersamaan dengan sibak tirai angin
yang menyejukkan, mata Shila yang teduh membuat hati Izza terasa hangat. Ia
terlihat mulai kembali merasa nyaman berdua dengan Shila. Izza tahu, Shila
tidak mengharapkan kata maaf darinya. Ia tahu, Shila sedang berusaha melepaskan
semuanya dengan ikhlas lillahi ta`ala.
“ Terimakasih Izza…perlahan membawaku
kembali kepada Sang Pemilik Jiwa ini. ”
“ E-eh bukan aku yang membawa Shila kembali.
Tapi Allah sendiri yang sudah membukakan hati Shila, lalu menuntun Shila menemukan
jalan untuk kembali. “ Izza tersenyum manis. Shila menatap teduh kembali Izza.
Kini hati Shila sudah tidak lagi sakit, ia tahu kepada siapa kini ia harus
berharap.
***
“ Shilaaaa…main yuuu pulang sekolah nanti! “
ajak Dyan.
“ Tau nih Shila sekarang jarang main ah gak
asik. “ celetuk Araau.
“ Kuy laah main, gue lagi males banget les
nih. Habis sekolah nongkrong-nongkrong dimana gitu yuk. Biar kayak anak hits
gitu lah. Kita kan lumayan, sayangkan kalau cuma diem-diem doang? “ pinta
Keika.
“ Halaaah alesan lu doang itu mah biar kita
nge-iyain lu bolos les. Eh tapi kuy laah, anak laki tadi ngajak main lho. Ada
si Nata juga iiihh, ayuuk aaahh. Gue mau coba PDKT niih, lu pada gak mau
temenin gua apa?! “ seru Maura.
Dyan, Araau, dan Keika seketika menatap
Maura. Mereka terlihat bersemangat dengan ajakan Maura. Namun Shila terlihat
tengah bersiap untuk pulang. Dirinya sudah rapih dengan tas yang kini sudah ada
diatas punggungnya.
“ Maaf ya temen-temen…tapi kayaknya aku
harus langsung pulang. Aku gak bisa ikut kalian main. Kalian main bertiga aja
gak apa kan? “ ujar Shila dengan tatapan teduhnya.
“ Ah Shila mah gitu! Gak asik!! Kemaren juga
bilangnya gitu terus!!! “ seru Araau yang mulai meninggikan suaranya.
“ Lu kenapa sih La?! Sejak lu temenan sama
si sok suci Izza lu jadi lupa diri gini?? Lu jadi ngejauhin kita terus!
Sekarang mainnya juga sama si Izza terus. Lu ada masalah apa sih sama kita
hah?! “ bentak Maura.
“ Tau! Lupa diri banget sih!! Munafik tau
gak lu?! Ah udah deh males banget. Bilang aja lu takut ketemu Daru yang baru lu
putusin itu kan?? Kok lu tega sih mutusin cowo secakep dia?! Sok suci tau gak
lu lama-lama mirip Izza! Geli gua!! “ seru Keika dengan nada suara tinggi.
Atmosfer diantara mereka kini mulai memanas.
Dyan masih diam dalam kebingungan ingin melerai mereka atau ikut menyudutkan
Shila. Shila terlihat tak bergeming, hati nya tak gentar. Justru sekarang ia
merasa lebih tenang.
“ Teman-teman…dari awal kita ngumpul aku
udah sayang banget sama kalian. Kalian semua adalah orang yang berharga buat
aku. Tapi kini aku tahu, kalau aku benar-benar sayang harusnya aku berani
ngajak kalian buat berhenti dari itu semua. Berhenti nongkrong-nongkrong bareng
anak cowo yang bukan muhrim. Berhenti mengejar dan menarik perhatian anak
laki-laki, bahkan berhenti buat gosipin orang yang kita gak suka. Aku sayang
kalian, dan sekarang aku ngajak kalian buat berhenti. “ ujar Shila tersenyum
lalu menatap teduh teman-temannya satu persatu.
“ Dih seriusan woi Shila sekarang munafik
banget?! Sok suci sumpah ketularan Izza si culun itu! Udah ah gua udah males
banget sama Shila. Sia-sia gua ngomong sama orang lupa diri gini. Kita main
sendiri aja gak usah ngajak Shila. Kasian kan yah temen-temen Shila takut kesuciannya
ilang. “ seru Keika lalu melangkah keluar menuju pintu keluar kelas. Diikuti
Araau lalu Dyan.
“ Munafik lu yang bilang sayang sama kita.
Ikutan geli gua. Padahal lu cakep tapi kelakuan gini. Nyesel gua sempet bantuin
lu buat jadian sama Daru. “ Maura menyusul yang lainnya keluar kelas.
Lalu beberapa saat kemudian terdengar dengan
jelas mereka mengolok-olok Shila di koridor kelas dengan suara yang sengaja
dibesarkan. Shila terdiam, kemudian menghela nafas panjang. Dirinya kembali
terduduk disalah satu kursi kelas. Dadanya terasa sesak, matanya memanas.
Kemudian air mata perlahan mengalir jatuh dari pelupuk mata teduhnya. Terdengar
seseorang tengah berlari menuju ruang kelas Shila. Izza tak sengaja
meninggalkan Al-Qurannya di lokernya. Izza harus membawa Al-Quran itu
bersamanya karena ia akan tahsin sepulang sekolah ini. Izza terkejut melihat
Shila yang ternyata tinggal seorang di dalam kelas. Sayup-sayup ia mendengar
Shila terisak. Spontan Izza menghampirinya.
“ Shila! Allahu Akbar!! kamu kenapa?! “ Izza memeluk Shila. Ditepuknya pundak Shila perlahan berharap Shila akan jadi sedikit lebih tenang. Shila masih terisak, namun perlahan ia menatap Izza. Shila mencoba menghentikan tangisnya lalu berusaha tersenyum hendak menyapa Izza. Namun Izza dengan sigap kini duduk di sebelah kanan Shila.
Dibukanya
Al-Quran dalam genggamannya. Jemarinya mulai mengusap lembut halaman 193 dari
Al-Quran pojok tersebut. Izza kemudian meminta Shila memperhatikan salah satu
ayat yang ditunjuknya, jemarinya mengarah pada ayat paling bawah, ayat 40 dari
surat At-Taubah.
“ Laa tahzan, Innallaha ma`anna… ” ucap Izza
lirih.
“ Jangan engkau bersedih…sesungguhnya Allah
bersama kita. “ Shila menatap teduh
Izza. Hatinya terasa sejuk mendengar semua kalimat Izza. Kini sesak di dada
Shila tidak lagi ada, hatinya berhenti berdenyut sakit, digantikan dengan
ketenangan yang belum pernah Shila rasakan sebelumnya.
“ Apa yang ada di sisi Allah jauh lebih
baik, lebih berharga. Shila…dunia itu rapuh, sangat rapuh. Tidak lebih berat
dari sayap lalat. Apa yang ada di sisi dunia itu sangat ringan dan mudah
terhempas seperti debu. “ Izza tersenyum tulus, manis. Shila berhenti menangis,
ia sudah tak lagi terisak.
Kelapangan dada dan ketenangan hati kini
menyelimuti jiwa Shila. Ia sudah ikhlas, melepas teman-teman dahulunya. Shila kini
mengerti apa maksud “ genggamlah erat sahabat to Jannah mu “ yang sepintas
pernah ia lihat di poster acara taklim di sekolahnya. Izza masih tersenyum.
Izza tahu Shila punya hati yang kuat untuk berhijrah. Ia bersyukur kepada Yang
Maha Melapangkan, serta menggantungkan harapan pada Yang Maha Tempat Bergantung
agar Shila semoga istiqomah berjuang di jalan-Nya.
***
Tirai angin merebak, membawa kesejukan yang mendamaikan jiwa dalam ketenangan. Suasana langit terasa sendu, bersama mendung menjadi payung bagi Shila yang kini ada diatas jalan setapak yang asri, di depan sebongkah masa depan yang pasti. Matanya menatap teduh ukiran nama orang yang sangat dicintainya. “ Aminah Izatunnisa ”, seorang yang sangat dicintainya. Sangat dirindukannya sejak 7 tahun yang lalu. Shila masih ingat betul bagaimana senyum lemah lembut terakhir ibunya diberikan kepadanya. Lalu kemudian matanya terpejam seperti tidur, disamping ranjang rawatnya ayah Shila menangis tanpa terisak. Shila tersenyum, mengingat hal itu membuatnya hanya ingin berdoa sebanyak-banyaknya. Kemudian matanya beralih, kini tatapannya jauh lebih teduh. Menatap ukiran nama orang yang sangat disayanginya, Izzatunisa Mahfudz.
“ Sudah 3 tahun
terlewati, tapi hadirmu masih terasa disini. “ Shila berbisik pelan. Izza
mungkin tak mendengar ini. Tapi Shila tahu, Yang Menciptakan Izza pasti
mendengarnya. Semerbak harum perlahan tercium dari bongkahan tempat singgah
terakhir dihadapan Shila. Ia tersenyum.
“ Aku menyayangimu,
tapi ternyata Allah lebih sayang sama kamu...jauh lebih sayang... “ bisik lirih
Shila. Dirinya mengingat bagaimana khawatirnya Izza karena tak bisa menepati
janjinya untuk terus ada disamping Shila.
“ Tidak...kamu
menepati janjimu. Ragamu mungkin telah tiada, tapi jiwa yang kau tanamkan
padaku masih ada. Nafasmu mungkin
telah pergi, tapi detak keislamanmu masih melekat dalam hatiku. Kau telah
tiada, tapi apa yang kau tinggalkan padaku terasa nyata. Aku yakin, keinginan
kita untuk have fun di Surga pasti dikabulNya. Sekarang, tinggal aku yang kini
harus melanjutkan tabungan kita buat pergi kesana. Kamu sudah mengisi
setengahnya, dan kini pergi menemui-Nya. Tunggu aku ya...aku akan melanjutkan
setengahnya. Kemudian saat tiba Allah panggil aku, kita pecahin sama-sama dihadapan-Nya
…Oke? “ Shila tersenyum tulus. Dengan teduh ia kembali menatap langit yang
sendu.

Komentar
Posting Komentar